Jujur dan Amanah dalam bertransaksi adalah sumber keberkahan rejeki

Minggu, 14 Juni 20150 komentar

Print Friendly and PDF

Bnyak diantara kita yang menginginkan sebuah keberkahan dan kebaikan dalam mencari nafkah. Keberkahan yang melimpah akan sangat memiliki arti yang baik ketimbang harta melimpah tapi tidak mendapat keberkahan.

Hal yang perlu kita perhatikan dalam bekerja meliputi :

Niat Ikhlas Karena Allah SWT

Kenapa Niat Ikhlas karena Allah SWT diperlukan? Karena niat adalah hal yang paling utama dalam segala tindakan yang kita lakukan. Niat ikhlas karena Allah merupakan sebuah kewajiban yang harus dilakukan seorang hamba kepada Tuhannya dalam segala aktivitas yang dilakukannya sehari-hari. Memulai suatu aktivitas dengan doa kepada Allah adalah tindakan yang sangat mulia untuk meluruskan niat yang telah kita rencanakan untuk mencapai keberkahan.


Profesional dan Bersungguh-sungguh dalam bekerja

Setelah meniatkan diri untuk bekerja, langkah selanjutnya adalah bersungguh-sungguh dan bertindak profesional dalam bekerja. Tekun adalah kunci dari sebuah pekerjaan. Jika kita tekun dan menyelesaikan pekerjaan yang kita lakukan dengan tuntas, maka hasil yang kita dapatkan juga akan maksimal karena Allah mencintai hambanya yang dalam bekerja dia menyempurnakan pekerjaannya.


Sikap Jujur dan Amanah

Disinilah kadang hal yang menjadi sumber dari segala macam ketidak berkahan dari rizki yang kita dapat dari hasil bekerja. Jika sebuah perkerjaan yang sudah diamanatkan kepada kita kita jalani tanpa NIAT BAIK dan PROFESIONALISME, maka yang timbul adalah adanya ketidak jujuran dalam bekerja.

Pekerjaan yang sudah menjadi amanah bagi kita juga akan kita pertanggung jawabkan di dunia dan di akhirat. Maka, hendaknya kita menjadikan kejujuran sebagai pedoman dan landasan hidup dalam bekerja.

Saat ini kultur yang dimbul adalah banyak ketidak jujuran dalam bekerja. Banyak yang bekerja tapi melakukan tindakan-tindakan yang merugikan tempat dia bekerja seperti : Korupsi, Manipulasi dan tindakan lain yang mungkin secara tidak sadar  bisa jadi kita telah melakukannya dan dianggap hal yang biasa.


Mari kita perbaiki diri kita sedikit demi sedikit agar kita menjadi orang-orang yang jujur dan amanah dan kelak kita bisa bersama dengan para nabi, shiddiqin dan syuhada.

Seorang pebisnis yang jujur lagi dapat dipercaya, (kelak akan dikumpulkan) bersama para nabi, shiddiqin dan syuhada’. (HR. Turmudzi)



Menjaga Etika Sebagai Seorang Muslim

Banyak diantara kita yang bekerja sudah melunturkan etika sebagai seorang muslim. Hal ini bisa kita lihat dari hal yang sederhana misalnya Cara berpakaian, Cara berbicara, Cara Menegur, Cara Bergaul, Cara menghadapi pelanggan dan cara-caran yang lainnya.

Ada yang berkata bahwa kita harus membedakan antara bisnis dan agama. Tapi tidakkah kita sadari bahwa bekerja pun harus kita bekali dengan agama. Karena agama memang digunakan untuk hidup bukan hanya sekedar untuk menjalankan ritual yang kita jalani kepada Tuhan semata.

Sesempurna-sempurnanya keimanan seorang mu’min adalah yang paling baik akhlaknya (HR. Turmudzi)


Tidak melanggar Prinsip-prinsi syariah

Prinsip yang syariah tidak hanya berlaku pada label atau brand yang dipasang saja, tapi prinsip syariah juga harus ada di dalam etika pekerjaan tersebut yaitu pekerjaan tidak mengandung unsur yang bersifat haram dan menggiring ke arah yang haram. Misalnya menyebarkan Pornografi, Riba, Maysir, Gharar dan lainnya. Serta didukung oleh penunjang dalam pekerjaan tersebut misalnya aurat, fitnah dalam bersaing dan lain-lain.


Menghindari Syubhat

Syubhat atau sesuatu yang samar dan diragukan kehalalannya mungkin hal yang perlu kita perhatikan. Seperti pemberian yang mengandung unsur kepentingan tertentu yang bisa mengganjal profesionalisme dan kejujuran yang kita lakukan atau mungkin bekerja sama dengan pihak-pihak yang melanggar aturan syariah dan diragukan kehalalan dari pekerjaan yang dilakukannya.

Oleh karena itulah, kita diminta hati-hati dalam kesyubhatan ini. Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda, “Halal itu jelas dan haram itu jelas, dan diantara keduanya ada perkara-perkara yang syubhat. Maka barang siapa yang terjerumus dalam perkara yang syubhat, maka ia terjerumus pada yang diharamkan…” (HR. Muslim)

Menjaga Ukhuwah Islamiyah

Aspek lain yang juga sangat penting diperhatikan adalah masalah ukhuwah islamiyah antara sesama muslim. Jangan sampai dalam bekerja atau berusaha melahirkan perpecahan di tengah-tengah kaum muslimin. Rasulullah SAW sendiri mengemukakan tentang hal yang bersifat prefentif agar tidak merusak ukhuwah Islamiyah di kalangan kaum muslimin. Beliau mengemukakan, “Dan janganlah kalian membeli barang yang sudah dibeli saudara kalian” Karena jika terjadi kontradiktif dari hadits di atas, tentu akan merenggangkan juga ukhuwah Islamiyah diantara mereka; saling curiga, su’udzon dsb.


Sebab yang menjadikan harta diberkahi oleh Allah adalah sikap jujur dan amanah dalam mencari Rizki terutama dalam jual beli.

Jujur dan Amanah

Ada sebuah kisah yang menceritakan tentang keteladanan seorang pengusaha yang diberkahi oleh Allah sebagai berikut :


Yunus bin ‘Ubaid bin Dinar al-Bashri (wafat tahun 139 H), Imam panutan dari generasi Tabi’in yang sangat terpercaya dan teliti dalam meriwayatkan hadits Rasulullah , serta sangat wara’ (hati-hati dalam masalah halal dan haram).

Beliau adalah seorang pedagang kain yang sangat jujur dan selalu menjelaskan cacat barang dagangan beliau sebelum terjadi jual beli. Bahkan karena kejujuran beliau pernah mengembalikan uang seorang pembeli yang membeli kain beliau dengan harga yang lebih tinggi, karena waktu itu yang menjualnya adalah keponakan beliau. Bagitu pula sebaliknya, jika beliau membeli barang dari seseorang, maka beliau akan membayarnya dengan harga yang sesuai meskipun orang tersebut pada awalnya menawarkannya dengan harga yang lebih murah.

Diriwayatkan dalam biografi beliau, bahwa suatu saat harga kain di suatu daerah dekat Bashrah naik menjadi lebih mahal, yang mana sesuai kebiasaan, jika daerah tersebut harga kainnya naik, maka harga kain di Bashrah pun nantinya ikut naik. Mengetahui hal itu, Yunus bin ‘Ubaid segera membeli sejumlah besar kain kepada pedagang kain lainnya dengan harga pasaran biasa. Setelah selesai membeli barang tersebut, beliau bertanya kepada penjual tersebut: Apakah engkau mengetahui bahwa harga kain naik di daerah anu? Penjual tersebut menjawab: Tidak, kalau saja aku tau tentu aku tidak akan menjualnya kepadamu. Maka Yunus bin ‘Ubaid berkata: (Kalau begitu) kembalikan uangku padamu dan aku akan kembalikan barangmu.

Masya Allah ! Betapa mulia dan agungnya sifat beliau ini dan betapa tingginya sifat jujur dan amanah dalam diri beliau sehingga dengan sebab inilah Allah memberkahi harta beliau dan memudahkan beliau meraih kedudukan yang mulia dalam agama-Nya, sehingga imam adz-Dzahabi menyifati beliau sebagai “seorang imam dan panutan (dalam kebaikan)”.

Oleh karena besarnya keutamaan dua sifat ini dalam berjual-beli, Rasulullah : “Seorang pedagang muslim yang jujur dan amanah (terpercaya) akan (dikumpulkan) bersama para Nabi , orang-orang shiddiq dan orang-orang yang mati syahid pada hari kiamat (nanti)”.

Imam ath-Thiibi mengomentari hadits ini dengan mengatakan: “Barangsiapa yang selalu mengutamakan sifat jujur dan amanah maka dia termasuk golongan orang-orang yang taat (kepada Allah ) dari kalangan orang-orang shiddiq dan orang-orang yang mati syahid, tapi barangsiapa yang selalu memilih sifat dusta dan khianat maka dia termasuk golongan orang-orang yang durhaka (kepada Allah ) dari kalangan orang-orang yang fasik (buruk/rusak agamanya) atau pelaku maksiat”.

Beberapa pelajaran penting yang dapat kita petik dari kisah di atas:
Maksud sifat jujur dan amanah dalam berjual-beli adalah dalam keterangan yang disampaikan sehubungan dengan jual beli tersebut dan penjelasan tentang cacat atau kekurangan pada barang dagangan yang dijual jika memang ada cacat padanya.

Inilah sebab yang menjadikan keberkahan dan kebaikan dalam perdagangan dan jual beli, sebagaimana sabda Rasulullah : “Kalau keduanya (pedagang dan pembeli) bersifat jujur dan menjelaskan (keadaan barang dagangan atau uang pembayaran) maka Allah akan memberkahi keduanya dalam jual beli tersebut, tapi kalau kaduanya berdusta dan menyembunyikan (hal tersebut) maka akan hilang keberkahan jual beli tersebut”.

Berdagang yang halal dengan sifat-sifat terpuji yang tersebut di atas adalah pekerjaan yang disukai dan dianjurkan oleh Rasulullah dan para shahabat y, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits yang shahih. Adapun hadits “Sembilan persepuluh (90 %) rezki adalah dari perniagaan”, maka ini adalah hadits yang lemah, sebagaimana yang dijelaskan oleh syaikh al-Albani.

Sumber : blog.bursamuslim.com


Demikian bab kejujuran dan Amanah dalam bekerja yang bisa menjadi sumber keberkahan kita dalam bekerja. Semoga bermanfaat dan diambil sisi positifnya.


Share this article :

Posting Komentar

 
www.newselvi.com
Copyright © 2014. New Selvi - All Rights Reserved
Self Learning Version
learning more easy and interesting