![]() |
| sumber gambar jodoh terbentur weton by sidomi |
Hitungan jodoh menurut Islam dan Jawa
Sebagai orang Jawa anda
pasti tahu dengan yang namanya Primbon dan Weton, hal tersebut merupakan
warisan dari pendahulu orang Jawa pada
waktu lampau yang mendasarkannya pada ilmu titen (ilmu kebiasaan / sebab akibat).
Kebanyakan orang Jawa
menggunakannya dalam hitungan apapun mulai dari membangun rumah, memilih jodoh,
membeli kendaraan sampai memilih hari baik. Lalu sisi apa yang bisa diambil
dari hal tersebut? Sisi Baik atau Sisi Buruk?
Sebagai orang Jawa atau
orang Indonesia pada umumnya, tentu kita bisa menggunakan sebagai salah satu
budaya yang bisa kita percaya atau tidak. Semua akan berbalik pada keyakinan
yang bisa juga menimbulkan pro dan kontra yang mungkin bisa dijadikan sebuah
pertimpangan yang tidak memaksa masing masing individu untuk bisa
mempercayainya.
Kadang hanya karena
terlalu percaya pada Weton, segala sesuatu dipersalahkan di weton. Apakah tidak
ada solusi yang baik dengan diskusi, ikhtiar dan doa? Padahal di Al Quran juga
banyak pemaparan yang baik mengenai bingkai kehidupan di dunia dan cara
menjalaninya. Misalnya dalam urusan jodoh sendiri kadang orang rela bercerai
walau sudah memiliki anak hanya karena dianggap wetonya tidak cocok. Padahal
dalam Islam tidak ada untuk memilih jodoh melalui weton, tapi
“Wanita biasanya dinikahi karena empat hal: karena hartanya,
karena kedudukannya, karena parasnya dan karena agamanya. Maka hendaklah kamu
pilih wanita yang bagus agamanya (keislamannya). Kalau tidak demikian, niscaya
kamu akan merugi.” (HR. Bukhari-Muslim)
“Jika datang kepada kalian seorang lelaki yang kalian ridhai
agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia. Jika tidak, maka akan terjadi fitnah
di muka bumi dan kerusakan yang besar.” (HR. Tirmidzi. Al
Albani berkata dalam Adh Dho’ifah bahwa hadits ini hasan lighoirihi)
Dari Anas bin Malik radhiallahu
‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak
boleh ada tiyarah, dan saya suka optimisme!” Beliau ditanya, “Apa maksud
‘optimisme’?” Beliau menjawab, “Kalimat yang baik.” (HR. Bukhari dan
Muslim)
Bahkan di dalam Al
Quran menyebutkan bahwa Jodoh kita adalah cerminan dari diri kita sendiri, oleh
karena itu hendaknya kita bisa memperbaiki diri kita sendiri sebelum kita
mencari jodoh yang kita anggap pantas untuk diri kita. Jadi, tidak perlu
khawatir untuk tidak mendapat Jodoh yang sesuai dengan harapan kita seandainya
kita sudah berusaha untuk melakukan yang terbaik untuk mendatangkan jodoh yang
kita inginkan tersebut.
“Wanita-wanita yang keji untuk laki-laki yang keji. Dan
laki-laki yang keji untuk wanita-wanita yang keji pula. Wanita-wanita yang baik
untuk laki-laki yang baik. Dan laki-laki yang baik untuk wanita-wanita yang
baik pula.” (QS. An Nur: 26)
Dan hal ini tidak ada
kaitannya dengan weton dan neptu dalam tradisi Jawa. Hanya di dalam Islam kita
disyarankan untuk melakukan sholat-sholat sunnah seperti Sholat Istikarah untuk
meminta petunjuk maupun solat hajat dan solat sunnah lainnya agar Allah membantu
jalan kita dalam menapaki kehidupan yang baik. Dan semoga jodoh yang sudah kita
idam-idamkan tersebut menjadi jodoh terbaik kita baik di dunia maupun di
akhirat.
Bahkan, Allah secara tersurat meminta hambanya untuk berdoa meminta jodoh sebagaimana dijelaskan dalam QS Al Furqon ayat 74 yang artinya: "Ya Allah, berikanlah kami anugerah istri dan keturunan kami sebagai penggembira hati, serta jadikanlah kami imam untuk orang-orang bertakwa."
Jodoh dalam hitungan Jawa
Meski banyak dari
orang-rang modern banyak yang menentang masalah Jodoh hanya karena tradisi, adat, dan kebiasaan orang Jawa
terdahulu yang bahkan dianggap mereka sebagai pemikiran yang kolot, tapi hal
tersebut tetap eksis dan dijaga oleh orang tua kita. Kadang ada orang modern
yang tidak percaya pada tradisi dan terpaksa menikah tanpa restu orang tua atau
kawin lari hanya karena orang tua mereka tidak merestui lantaran wetonnya tidak
cocok.
Menurut Jawa, apabila hitungan jodoh yang didasarkan pada neptu dan weton itu baik, maka para mempelai akan menjumpai kebahagiaan luar biasa pada masa yang akan datang hingga menjadi nenek-nenek.
Namun, jika neptu dan weton yang dihitung dengan pemjumlahan masing-masing ternyata hasilnya jelek, maka rumah tangga ke depan selalu kisruh, berantakan, bahkan dampak yang lebih mengerikan, ia akan menemui ajalnya mendahului takdir kematian yang ditetapkan Allah.
Ulama islampun ada yang masih mengkolaborasikan ajaran Islam dan adat Jawa tersebut sebagai kolaborasi baik yang diambil sisi baiknya. Dalam hal ini kadang disamping didasarkan Agama, mereka masih menggunakan hitungan Jawa sebagai patokan untuk memberikan pencerahan.
Menurut Jawa, apabila hitungan jodoh yang didasarkan pada neptu dan weton itu baik, maka para mempelai akan menjumpai kebahagiaan luar biasa pada masa yang akan datang hingga menjadi nenek-nenek.
Namun, jika neptu dan weton yang dihitung dengan pemjumlahan masing-masing ternyata hasilnya jelek, maka rumah tangga ke depan selalu kisruh, berantakan, bahkan dampak yang lebih mengerikan, ia akan menemui ajalnya mendahului takdir kematian yang ditetapkan Allah.
Ulama islampun ada yang masih mengkolaborasikan ajaran Islam dan adat Jawa tersebut sebagai kolaborasi baik yang diambil sisi baiknya. Dalam hal ini kadang disamping didasarkan Agama, mereka masih menggunakan hitungan Jawa sebagai patokan untuk memberikan pencerahan.
Kenapa hal ini diambil
ulama sebagai jalan yang baik? Karena "Sudah banyak yang membuktikan. Salah satu contoh dari web
cendikia islam adalah adanya orang yang tidak percaya pada hitungan Jawa pada
pernikahannya. Padahal, dia dan suaminya jumlahnya 24 di mana artinya angka
kematian. Setelah punya anak dua, dia tertabrak. Sebelumnya, ia mimpi
dikejar-kejar bola api, sebelum meninggal," ujar Jeng Tatik, pakar
hitungan Jawa asal kota seribu paranormal Pati, Jawa Tengah.
"Bahkan, ada juga yang sudah punya anak dua besar-besar bercerai demi kebaikan mereka. Pasalnya, mereka saling mencintai dan tidak percaya pada hitungan Jawa. Setelah berpuluh tahun tidak ada masalah, akhirnya salah satu di antara mereka selalu bermimpi dikejar Batara Kala atau malaikat kematian. Menyadari kesalahan itu, tanpa konsultasi dengan ahli hitung Jawa, mereka memutuskan untuk bercerai. Sampai saat ini, mereka baik-baik saja setelah bercerai," imbuh Jeng Tatik.
Sampai saat ini, kepercayaan terhadap ramalan primbon perhitungan Jawa berdasarkan neptu dan weton masih sangat melekat dalam tradisi orang Jawa, meski mereka beragama Islam dan sepenuhnya percaya pada takdir Allah. Sejumlah kalangan mempercayai bahwa hitungan jawa adalah formula pengetahuan yang didapatkan leluhur untuk generasi anak cucu mereka.
"Bahkan, ada juga yang sudah punya anak dua besar-besar bercerai demi kebaikan mereka. Pasalnya, mereka saling mencintai dan tidak percaya pada hitungan Jawa. Setelah berpuluh tahun tidak ada masalah, akhirnya salah satu di antara mereka selalu bermimpi dikejar Batara Kala atau malaikat kematian. Menyadari kesalahan itu, tanpa konsultasi dengan ahli hitung Jawa, mereka memutuskan untuk bercerai. Sampai saat ini, mereka baik-baik saja setelah bercerai," imbuh Jeng Tatik.
Sampai saat ini, kepercayaan terhadap ramalan primbon perhitungan Jawa berdasarkan neptu dan weton masih sangat melekat dalam tradisi orang Jawa, meski mereka beragama Islam dan sepenuhnya percaya pada takdir Allah. Sejumlah kalangan mempercayai bahwa hitungan jawa adalah formula pengetahuan yang didapatkan leluhur untuk generasi anak cucu mereka.
Bagi anda yang meyakini
Weton hendaknya menjaga baik-baik weton tersebut, tapi bagi anda yang percaya
pada Takdir Allah, jangan anda meragu karena sebuah weton. Karena semuanya
berbaliknya hanya pada sebuah keyakinan yang mungkin kita bisa percaya atau
tidak.

Posting Komentar