Jodoh Terbentur Weton

Jumat, 15 Mei 20150 komentar

Print Friendly and PDF
sumber gambar jodoh terbentur weton by sidomi



Hitungan jodoh menurut Islam dan Jawa

Sebagai orang Jawa anda pasti tahu dengan yang namanya Primbon dan Weton, hal tersebut merupakan warisan dari pendahulu orang  Jawa pada waktu lampau yang mendasarkannya pada ilmu titen (ilmu kebiasaan / sebab akibat). 

Kebanyakan orang Jawa menggunakannya dalam hitungan apapun mulai dari membangun rumah, memilih jodoh, membeli kendaraan sampai memilih hari baik. Lalu sisi apa yang bisa diambil dari hal tersebut? Sisi Baik atau Sisi Buruk?

Sebagai orang Jawa atau orang Indonesia pada umumnya, tentu kita bisa menggunakan sebagai salah satu budaya yang bisa kita percaya atau tidak. Semua akan berbalik pada keyakinan yang bisa juga menimbulkan pro dan kontra yang mungkin bisa dijadikan sebuah pertimpangan yang tidak memaksa masing masing individu untuk bisa mempercayainya.

Kadang hanya karena terlalu percaya pada Weton, segala sesuatu dipersalahkan di weton. Apakah tidak ada solusi yang baik dengan diskusi, ikhtiar dan doa? Padahal di Al Quran juga banyak pemaparan yang baik mengenai bingkai kehidupan di dunia dan cara menjalaninya. Misalnya dalam urusan jodoh sendiri kadang orang rela bercerai walau sudah memiliki anak hanya karena dianggap wetonya tidak cocok. Padahal dalam Islam tidak ada untuk memilih jodoh melalui weton, tapi

“Wanita biasanya dinikahi karena empat hal: karena hartanya, karena kedudukannya, karena parasnya dan karena agamanya. Maka hendaklah kamu pilih wanita yang bagus agamanya (keislamannya). Kalau tidak demikian, niscaya kamu akan merugi.” (HR. Bukhari-Muslim)

“Jika datang kepada kalian seorang lelaki yang kalian ridhai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia. Jika tidak, maka akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar.” (HR. Tirmidzi. Al Albani berkata dalam Adh Dho’ifah bahwa hadits ini hasan lighoirihi)

Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak boleh ada tiyarah, dan saya suka optimisme!” Beliau ditanya, “Apa maksud ‘optimisme’?” Beliau menjawab, “Kalimat yang baik.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Bahkan di dalam Al Quran menyebutkan bahwa Jodoh kita adalah cerminan dari diri kita sendiri, oleh karena itu hendaknya kita bisa memperbaiki diri kita sendiri sebelum kita mencari jodoh yang kita anggap pantas untuk diri kita. Jadi, tidak perlu khawatir untuk tidak mendapat Jodoh yang sesuai dengan harapan kita seandainya kita sudah berusaha untuk melakukan yang terbaik untuk mendatangkan jodoh yang kita inginkan tersebut.

“Wanita-wanita yang keji untuk laki-laki yang keji. Dan laki-laki yang keji untuk wanita-wanita yang keji pula. Wanita-wanita yang baik untuk laki-laki yang baik. Dan laki-laki yang baik untuk wanita-wanita yang baik pula.” (QS. An Nur: 26)

Dan hal ini tidak ada kaitannya dengan weton dan neptu dalam tradisi Jawa. Hanya di dalam Islam kita disyarankan untuk melakukan sholat-sholat sunnah seperti Sholat Istikarah untuk meminta petunjuk maupun solat hajat dan solat sunnah lainnya agar Allah membantu jalan kita dalam menapaki kehidupan yang baik. Dan semoga jodoh yang sudah kita idam-idamkan tersebut menjadi jodoh terbaik kita baik di dunia maupun di akhirat.

Bahkan, Allah secara tersurat meminta hambanya untuk berdoa meminta jodoh sebagaimana dijelaskan dalam QS Al Furqon ayat 74 yang artinya: "Ya Allah, berikanlah kami anugerah istri dan keturunan kami sebagai penggembira hati, serta jadikanlah kami imam untuk orang-orang bertakwa."



Jodoh dalam hitungan Jawa


Meski banyak dari orang-rang modern banyak yang menentang masalah Jodoh hanya karena  tradisi, adat, dan kebiasaan orang Jawa terdahulu yang bahkan dianggap mereka sebagai pemikiran yang kolot, tapi hal tersebut tetap eksis dan dijaga oleh orang tua kita. Kadang ada orang modern yang tidak percaya pada tradisi dan terpaksa menikah tanpa restu orang tua atau kawin lari hanya karena orang tua mereka tidak merestui lantaran wetonnya tidak cocok.

Menurut Jawa, apabila hitungan jodoh yang didasarkan pada neptu dan weton itu baik, maka para mempelai akan menjumpai kebahagiaan luar biasa pada masa yang akan datang hingga menjadi nenek-nenek.

Namun, jika neptu dan weton yang dihitung dengan pemjumlahan masing-masing ternyata hasilnya jelek, maka rumah tangga ke depan selalu kisruh, berantakan, bahkan dampak yang lebih mengerikan, ia akan menemui ajalnya mendahului takdir kematian yang ditetapkan Allah.

Ulama islampun ada yang masih mengkolaborasikan ajaran Islam dan adat Jawa tersebut sebagai kolaborasi baik yang diambil sisi baiknya. Dalam hal ini kadang disamping didasarkan Agama, mereka masih menggunakan hitungan Jawa sebagai patokan untuk memberikan pencerahan.
Kenapa hal ini diambil ulama sebagai jalan yang baik? Karena "Sudah banyak  yang membuktikan. Salah satu contoh dari web cendikia islam adalah adanya orang yang tidak percaya pada hitungan Jawa pada pernikahannya. Padahal, dia dan suaminya jumlahnya 24 di mana artinya angka kematian. Setelah punya anak dua, dia tertabrak. Sebelumnya, ia mimpi dikejar-kejar bola api, sebelum meninggal," ujar Jeng Tatik, pakar hitungan Jawa asal kota seribu paranormal Pati, Jawa Tengah.

"Bahkan, ada juga yang sudah punya anak dua besar-besar bercerai demi kebaikan mereka. Pasalnya, mereka saling mencintai dan tidak percaya pada hitungan Jawa. Setelah berpuluh tahun tidak ada masalah, akhirnya salah satu di antara mereka selalu bermimpi dikejar Batara Kala atau malaikat kematian. Menyadari kesalahan itu, tanpa konsultasi dengan ahli hitung Jawa, mereka memutuskan untuk bercerai. Sampai saat ini, mereka baik-baik saja setelah bercerai," imbuh Jeng Tatik.

Sampai saat ini, kepercayaan terhadap ramalan primbon perhitungan Jawa berdasarkan neptu dan weton masih sangat melekat dalam tradisi orang Jawa, meski mereka beragama Islam dan sepenuhnya percaya pada takdir Allah. Sejumlah kalangan mempercayai bahwa hitungan jawa adalah formula pengetahuan yang didapatkan leluhur untuk generasi anak cucu mereka. 


Bagi anda yang meyakini Weton hendaknya menjaga baik-baik weton tersebut, tapi bagi anda yang percaya pada Takdir Allah, jangan anda meragu karena sebuah weton. Karena semuanya berbaliknya hanya pada sebuah keyakinan yang mungkin kita bisa percaya atau tidak.
Share this article :

Posting Komentar

 
www.newselvi.com
Copyright © 2014. New Selvi - All Rights Reserved
Self Learning Version
learning more easy and interesting