Mengatakan perkataan yang benar bukanlah perkara yang mudah untuk dilakukan, terlebih lagi jika hal semacam ini memiliki korelasi dengan pekerjaan, atasan maupun hal-hal yang bersifat rahasia. Lalu bagaimana kita harus mengelak dengan cara yang baik atas hal-hal yang semacam ini biar tidak menjadi sebuah kebohongan yang kita lakukan? Nah ini merupakan hal yang sebenarnya menjadi PR bagi kita agar kita tetap bisa menjaga sebuah anamat baik yang bersifat umum maupu yang bersifat rahasia tapi tetap bisa bertutur baik dan tidak membuat orang yang kita ajak bicara merasa tersinggung.
Tutur Kata Kita adalah Cerminan Diri Kita
Ingat, perkataan yang benar adalah sebaik-baik perkataan yang imbalannya langsung dari Allah dengan diberi pengampunan bagi dosa-dosa yang telah dilakukan dan menjadi suatu amal kebaikan baru yang akan memberikan jalan menuju kemenangan. Oleh sebab itu hendaklah kita mengucapkan perkataan yang baik dan tidak menyinggung perasaan orang lain sebagai cerminan diri kita baik atau buruknya. Jika kita merasa sulit untuk berkata benar lebih baik kita memilih untuk berdiam diri daripada kita berbicara kebohongan atau bahkan membocorkan rahasia yang sudah diamanatkan kepada kita seperti yang disabdakan nabi sebagai berikut :Dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, ‘Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia tidak menyakiti tetangganya. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tamunya. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia bertakat-kata yang baik atau hendaklah ia diam.” (HR. Bukhari & Muslim)
"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar." (Qs. Al Ahzab : 70-71)
Sangat jelas keterangan diatas bahwa kita dilarang untuk menyakiti tetangga dan dianjurkan untuk memuliakan tamu serta bicara yang baik. Kenapa hal ini demikian? Karena :
Memuliakan Tamu
Kita sebagai manusia pasti sering mendapat kunjungan atau berkunjung ke sanak famili, rekan kerja, dll. Namun sikap memuliakan tamu ini yang kita abaikan.
Menyakiti Tetangga
Mungkin terdengar sepele. Tapi, kita sering melakukan hal semacam ini hanya gara-gara perselisihan atau sekedar iri dengan menyeberkan kejelekan tetanggan bahkan melabarak tetangga.
Berbicara Baik atau Lebih Baik Diam
Nah, muara dari memuliakan tamu dan menyakiti tetangga adalah perkataan. Perkataan yang baik tentunya akan membuat orang yang kita ajak bicara menjadi segan kepada kita dan tidak takut untuk curhat dan sebagainya. Terlebih lagi jika kita mampu menjaga rahasia yang dia berikan. Tapi bagaimana jika kita tidak bisa berbicara dengan perkataan yang baik? solusi yang ditawarkan adalah Diam. karena diam akan mengurangi beban kita dari amanat dan janji yang kita tanggung akan sebuah rahasia dari perkataan yang terucap.
Bahkan dengan aib keluarga sendiri kita dilarang untuk membocorkannya rahasia sesuai dengan hadis Rasulullah yang berarti :
“Termasuk orang yang paling jelek di sisi Allah kedudukannya pada hari kiamat yaitu lelaki yang menggauli istrinya dan istrinya menggaulinya, kemudian lelaki itu menyebarkan rahasianya.” (HR. Muslim)
Tak jarang di dalam hubungan keluarga suami istri banyak percekcokan, pertengkaran dan salah paham antara satu dengan yang lain, Selain diam sebagai suatu jalan dalam menemukan solusi dan menenangkan diri ketika ada pertengkaran di dalam rumah tangga, menjaga diri dari menceritakan kejelekan pasangan kita kepada orang lain maupun tetangga adalah perbuatan yang lebih baik dan lebih disukai Allah SWT.
Memang didalam riwayat tersebut adalah Lelaki, tapi tak jarang Wanita juga sering berkerumun dengan tetangga dan bercerita kesana kemari hingga akhirnya kehabisan topik dan rahasiapun menjadi bahan perbincangan yang enak untuk dipergunjingkan. Hal ini juga sudah diwanti-wanti oleh Nabi bahwa Mulut dan Kemaluan adalah jembatan untuk masuk ke neraka yang sangat terbuka lebar.
Dari Abu Hurairah ra berkata, Rasulullah SAW ditanya tentang yang paling banyak masuk surga, beliau menjawab, ‘Takwa kepada Allah dan akhlak yang baik.’ Kemudian beliau ditanya tentang yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam neraka, beliau menjawab, ‘Lisan dan kemaluan.’ (HR. Turmudzi)
Lalu Bagaimana Adab Menjaga Rahasia?
Yang pertama yang mesti kita lakukan adalah membedakan antara hal yang rahasia dan yang tidak rahasia. Semua itu bisa kita lihat dalam beberapa cara seperti :
- Dengan ucapan, yaitu seseorang bercertia kemudia berkata, “Jangan ceritakan kepada orang lain.”
- Dengan perbuatan, misalnya penyampaian sesuatu dengan sembunyi-sembunyi hingga tidak ada orang yang tahu kecuali kau dan dia.
- Dengan melihat kondisi. Yaitu dengan memilah-milah apakah perkataan itu merupakan perkataan yang bersifat rahasia ataupun tidak. Misalnya perkataan yang bisa membuat malu orang yang diceritakan atau berupa aib seseorang sebaiknya dijadikan rahasia dan tidak diceritakan kepada orang lain.
Contoh adab menjaga Rahasia terhadap pertanyaan orang lain
1. Berkata Langsung bahwa ini rahasia
Dengan berkata langsung, orang akan lebih memahami maksud yang kita utarakan. Jika ini hal yang bersifat rahasia, maka anda akan aman terhadap rahasia yang harus dijaga dan juga aman dari pertanyaan. Berikut adalah cerita yang bisa kita petik hikmahnya
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendatangiku dan di waktu itu aku sedang bermain-main dengan beberapa orang anak. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam mengucapkan salam kepada kami, kemudian menyuruhku untuk sesuatu keperluannya. Oleh sebab itu aku terlambat mendatangi ibuku. Selanjutnya setelah aku datang, ibu lalu bertanya, ‘Apakah yang menahanmu?'”
Aku pun berkata, “Aku diperintah oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk sesuatu keperluannya.”
Ibu bertanya, “Apakah hajatnya itu?”
Aku menjawab, “Itu adalah rahasia.”
Ibu berkata, “Kalau begitu jangan sekali-kali engkau memberitahukan rahasia Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tersebut kepada siapapun juga.”
Anas berkata, “Demi Allah, andaikata rahasia itu pernah aku beritahukan kepada seseorang, sesungguhnya aku akan memberitahukan hal itu kepadamu pula, wahai Tsabit.” (HR. Muslim, diriwayatkan pula oleh Al Bukhari dengan ringkas)
2. Menceritakan Setelah Rahasia Tersebut Dirasa Sudah kadaluarsa dan Tidak Menjadi Rahasia Lagi
Dengan menceritakan hal yang sudah dianggap kadaluarsa, maka rahasia yang kita rasa sudah tidak memiliki arti untuk dijaga bisa untuk dicertiakan. Tapi yang perlu kita catat adalah jangan menambah atau mengurangi isi dari rahasia tersebut hingga membuat orang salah persepsi. Seperti cerita berikut yang bisa kita ambil hikmahnya
Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, katanya:“Kami semua, para istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sedang berada di sisi beliau pada saat itu. Kemudian menghadaplah puteri beliau, Fathimah radhiyallahu ‘anha dengan berjalan dengan cara jalannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Ketika beliau shallallahu ‘alaihi wasallam melihatnya, beliaupun menyambutnya dengan baik dan bersabda: “Marhaban hai puteriku.” Fathimah disuruhnya duduk di sebelah kanannya atau -menurut riwayat lain- di sebelah kirinya. Seterusnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membisikinya, lalu Fathimah menangis dengan tangisnya yang keras sekali.
Setelah beliau shallallahu ‘alaihi wasallam melihat kegelisahan puterinya lalu dibisikinya sekali lagi. Fathimah pun tertawa.”
Aku berkata kepada Fathimah, “Engkau telah diistimewakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di antara sekalian istri-istrinya dengan dibisiki, kemudian engkau menangis.” Sesudah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri dari tempatnya, lalu aku bertanya kepada Fathimah, “Apakah yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam padamu itu?” Fathimah menjawab,
“Aku tidak akan menyiar-nyiarkan apa yang dirahasiakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam“
Sesudah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam wafat, aku pun berkata kepada Fathimah, “Aku sengaja hendak bertanya kepadamu dengan cara yang sebenarnya, supaya engkau memberitahukan kepadaku apa yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.“
Fathimah menjawab, “Sekarang aku akan memberitahumu. Adapun yang dibisikkan oleh beliau shallallahu ‘alaihi wasallam pada pertama kalinya, yaitu beliau shallallahu ‘alaihi wasallam memberitahukan kepada aku bahwasanya Jibril dahulunya memberikan kepadanya wahyu dari Al Quran itu dalam setahun sekali, sedang sekarang dalam setahun diberikan dua kali. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya aku tidak mengetahui tentang datangnya ajalku itu, melainkan tentu sudah dekat. Maka dari itu bertaqwalah engkau dan bersabarlah, sesungguhnya saja sebaik-baiknya salaf (pendahulu) bagimu adalah aku.” Karena itu lalu aku menangis sebagaimana tangisku yang engkau lihat dulu itu.
Selanjutnya setelah beliau shallallahu ‘alaihi wasallam melihat betapa kegelisahan hatiku, lalu aku dibisikinya untuk kedua kalinya, lalu beliau bersabda, “Wahai Fathimah, tidakkah engkau suka jikalau engkau menjadi penghulu dari seluruh wanita dari kalangan kaum mu’minin atau penghulu dari seluruh wanita dari kalangan umat ini?” Oleh karena itu, maka aku pun tertawa sebagaimana yang dulu engkau lihat.” (Muttafaq ‘alaih, dan Ini adalah lafazh Muslim)
3. Menjaga Rahasia Dengan Diam
Mungkin menjaga rahasia dengan diam adalah hal yang sangatberat untuk dilakukan. Karena lawan bicara kita akan sangat sulit untuk menemukan jawaban apakah dia merasa terhina ataukah hal lain. Beriku contoh kisah menjaga rahasia
Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu juga pernah menceritakan bahwa ketika saudari perempuannya Hafshah bintu Umar menjanda, Umar bin Al Khattab radhiyallahu ‘anhu lalu menawarkan Hafshah kepada Utsman. Utsman radhiyallahu ‘anhu lalu menolak tawaran Umar.
Umar kemudian menawarkan Hafshah kepada sahabat yang lain, yaitu Abu Bakr Ash Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. Abu Bakr hanya terdiam, tidak memberi jawaban. Umar pun menjadi marah kepada Abu Bakar.
Setelah beberapa hari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ternyata datang meminang Hafshah. Umar pun lantas menikahkan putrinya itu dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Setelah itu Abu Bakar menemui Umar dan berkata, “Mungkin engkau marah kepadaku ketika engkau menawarkan Hafshah tetapi aku tidak memberikan jawaban?”
Umar berkata, “Ya.”
Abu Bakar lalu berkata, “Sebenarnya tidak ada yang menghalangi diriku untuk memberi jawaban atas tawaranmu, hanya saja sebelumnya aku telah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menyebut-nyebut nama Hafshah. Oleh karena itu aku tidak akan menyiar-nyiarkan rahasia Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Andaikata beliau shallallahu ‘alaihi wasallam meninggalkannya, sungguh akulah yang akan menikahinya.” (HR. Al Bukhari)
Semoga bermanfaat untuk kita lebih bisa menjaga amanah dan menjaga rahasia
Posting Komentar