Manfaat Puasa Bagi Kehidupan Manusia dari segi Kesehatan

Kamis, 15 Oktober 20150 komentar

Print Friendly and PDF
Kita tentu sering mendengar kata PUASA dan pernah menjalankan bahkan sering menjalankannya. Apa sih puasa itu? 


Puasa adalah menahan yaitu  tidak makan, minum dan menahan amarah atau hal-hal yang bisa membatalkan puasa dalam waktu tertentu. Dalam Islam biasanya puasa dilakukan mulai dari waktu Imsak yaitu waktu sebelum subuh dan diakhiri di waktu maghrib. Kegiatan puasa biasanya memiliki hubungan dengan ibadah atau ritual tertentu demi mengabulkan hajat seseorang. Praktiknya banyak yang tidak tahu kegunaan puasa sesungguhnya, banyak yang hanya sekedar ikut-ikutan atau hanya sekedar menggugurkan kewajiban tanpa mengetahui manfaat yang terkandung di dalam puasa.

Dalam Yahudi Puasa untuk umat Yahudi bermakna menahankan diri keseluruhannya dari makanan dan minuman, termasuk air. Gosok gigi diharamkan pada puasa hari besar Yom Kippur dan Tisha B'Av. Umat Yahudi yang mengamalkan berpuasa sampai ke enam hari pada satu tahun. 

Umat Kristen Intinya adalah pertobatan, melawan keiginan duniawi, keiginan daging. Puasa Kristen pada Umumnya banyak yang tidak diketahui keberadaanya oleh keyakinan non Kristen dan media publik. Dalam beberapa aliran Kristen hanya pelaksanaan dan tata caranya saja yang berbeda inti dan tujuanya sama.

Dalam Katolik Roma, puasa biasanya dilakukan dengan makan kenyang satu kali sehari (dalam waktu 24 jam), wajib dilakukan pada hari Rabu Abu dan Jumat Agung. Mereka tidak makan tidak minum termasuk menahan nafsu, sikap, dan juga hal-hal yang paling disukai. 

Keyakinan puasa Kristen Protestan tidak ada bedanya dengan katolik. Agama Kristen Protestan secara resmi tidak mewajibkan untuk berpuasa yang berarti tidak memiliki bulan khusus untuk berpuasa, tapi Ketua masing- masing Gereja mengajarkan pada umatnya menyempatkan diri agar sesering mungkin Berdoa dan Berpuasalah dengan keinginan, ketulusannya sendiri bukan karena paksaan. 

Dalam Islam, puasa (disebut juga Shaum) yang bersifat wajib dilakukan pada bulan Ramadan selama satu bulan penuh dan ditutup dengan Hari Raya Lebaran, menahan diri dari makan dan minum dan dari segala perbuatan yang boleh membatalkan puasa seperti perbuatan-perbuatan yang tidak baik termasuk dalam perkataan, tidak bertengkar, menjaga pola pikir, hawa nafsu, dan juga untuk melatih kesabaran, mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari dengan niat. 

Diatas adalah sedikit gambaran mengenai puasa dalam masing-masing agama. Tidak hanya agama Islam yang mengajarkan untuk berpuasa, agama lain juga mengajarkan berpuasa meskipun caranya berbeda-beda. Jika puasa diajarkan di semua agama, sebenarnya manfaat apa yang terkandung di dalamnya?

Islam sebagai agama penyempurna yang diturunkan terakhir di muka bumi oleh Allah melalui Nabi Muhammad SAW juga mewajibkan untuk berpuasa wajib 30 hari dalam setahun sebagaimana hadis dan ayat Alquran dibawah ini.
Rasulullah bersabda: “Seandainya manusia mengetahui besarnya pahala yang tersedia di bulan Ramadhan, niscaya dia berharap bulan Ramadhan itu sepanjang tahun.” (Ath-Thabrani, Ibnu Khuzaimah dan Al-Baihaqi, dari Abu Mas’ud )
“Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan ke atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan ke atas umat-umat yang sebelum kamu, semoga kamu menjadi orang-orang yang bertaqwa” (Qs 2:183).


Berbagai Penelitian Membuktikan bahwa Manfaat Puasa Bagi Kesehatan Tubuh Sangat Besar
Seperti :

1. Memperbaiki Organ Tubuh
2. Memperlancar Sistem Pencernaan
3. Baik untuk Kesehatan Mental
4. Menyehatkan jantung
5. Menurunkan Amarah
6. Menurunkan kadar gula Darah
7. Menghindari Kegemukan & Sarana Diet
8. Melindungi fungsi Ginjal
9. Meningkatkan Sistem Kekebalan Tubuh
10. Memacu Kinerja Otak
11. Meningkatkan Hormon Seksual
12. Membuang Racun Dalam Tubuh
13. Memiliki umur Panjang

1. Memperbaiki Organ Tubuh

Berbagai Penelitian dan analisa medis telah dilakukan di berbagai termpat dan negara menyatakan bahwa puasa sangat bermanfaat untuk kesehatan dan berdampak posotif bagi kesehatan organ-organ tubuh kita 

Menurut Mariam Alireza kolumnis dan pakar gizi dalam tulisannya di Arab News, banyak umat Muslim yang masih menganggap bahwa puasa hanya sekedar ibadah dan soal spritual. Masih sedikit Muslim yang menyadari fakta bahwa hadiah di balik puasa Ramadhan lebih luas dan lebih besar dari spirtual, doa dan ibadah.

Menurut studi dan eksperimen terbaru, puasa sendiri secara fisik memiliki banyak manfaat. Puasa berfungsi mendorong sistem detoksifikasi pada tubuh, membersihkan dan meregenerasi sel, jaringan, pembuluh darah, organ dan sistem, serta memberi waktu istirahat dan pemulihan diri bagi sistem pencernaan tubuh dan pengeluaran, juga organ lain yakni hati, pankreas dan ginjal.

2. Memperlancar Sistem Pencernaan

Selama berpuasa, maka organ-organ pencernaan akan beristirahat. Namun fungsi fisiologis pencernaan tetap berjalan normal, terutama produksi sekresi pencernaan. Sehingga membantu menjaga keseimbangan cairan tubuh dan membersihkan tubuh dari sisa-sisa atau endapan makanan. Pengolahan makanan dalam sistem pencernaan juga relatif tetap stabil, pelepasan energi juga mengikuti pola yang bertahap.

Puasa juga akan membuat sistem pencernaan memperoleh waktu untuk merevitalisasi dan meningkatkan fungsinya. Namun untuk diperhatikan, aktivitas puasa tidak menghentikan produksi asam lambung. Sehingga bagi penderita maag terutama yang sudah akut, disarankan untuk tetap berkonsultasi dengan ahlinya sebelum memilih berpuasa.


3. Baik untuk Kesehatan Mental

Dr. Ehret seorang ilmuwan bidang kejiwaan mengatakan: “Beberapa hari berpuasa akan memberikan dampak pada kesehatan fisik, dan lebih lanjut untuk mendapatkan kesehatan mental, seseorang harus menjalani puasa lebih dari 21 hari.” Hal tersebut -sebagaimana pernyataan Dr. Ehret- terjadi, dikarenakan otak manusia memiliki fungsi pembersih dan penyehat otak dengan bantuan sel yang disebut “neuroglial cells”. Saat berpuasa, sel-sel neuron yang sakit atau mati akan “dimakan” oleh sel-sel neurogial ini, yang mana hal tersebut akan berdampak baik pada mental seseorang.

Di Moskow, seorang guru besar yang bekerja pada lembaga psikiatri The Moskow Psychiatric Institute bernama Nicolayev menterapi pasien sakit jiwa dengan menerapkan puasa selama 30 hari. Setelah menjalani terapi tersebut dan dengan beberapa metode serta serangkaian tes. Hasilnya sangat memuaskan, ternyata para pasien tersebut bisa disembuhkan. Dan diprediksi kemungkinan pasien tidak kambuh lagi selama 6 tahun bahkan sembuh total.


4. Menyehatkan jantung

Penyakit jantung dan Pembuluh darah merupakan penyakit yang sering menjadi penyebab kematian yang begitu tinggi. Penyakit tersebut seperti Jantung Koroner, Hipertensi, Hipertensi Jantung, Ventrikel Fibrillation, Stroke dan berbagai penyakit jantung lainnya.

Pada umumnya penyebab penyakit tersebut adalah kelebihan lemak darah (hiperlipidemia), Kelebihan kolestrol darah (hiperkolestrolemia) yang lama kelamaan membentuk deposit pada dinding pembuluh darah dan akhirnya bisa menimbulkan penyumbatan pembuluh darah hingga akhirnya menyebabkan hipertensi.

Untuk penyakit yang berhubungan dengan Jantung dan Pembuluh darah (Kardivaskuler), pencegahan adalah hal yang lebih baik dengan cara memperbaiki gaya hidup yang sehat. Pola makan sehat dengan memperbanyak sayuran dan mengurangi kolestrol, olahraga dan aktivitas yang teratur serta Berpuasa.

Puasa pada dasarnya melatih seseorang untuk hidup teratur dan mencegah makan secara berlebihan. Penelitian juga membuktikan bahwa berpuada dapat menyehatkan tubuh karena memiliki keterkaitan dengan metabolisme dalam tubuh. Pada saat berpuasa ada peningkatan HDL (Kolestrol baik)   dan apoprotein alfa1 serta penurunan LDL (Kolestrol Buruk) yang ternyata sangat bermanfaat bagi kesehatan Jantung dan Pembuluh Darah.

Pada pelitian terbaru menunjukkan bahwa terjadi penurunan kadar apobetta, menaikkan kadar apoalfa1 dibandingkan sebelum puasa. Kondisi tersebut dapat menjauhkan seragan penyakit jantung dan pembuluh darah.


5. Menurunkan Amarah

Puasa ramadan juga berpengaruh terhadap ritme penurunan distribusi sirkadian dari suhu tubuh, hormon kortisol, melatonin dan glisemia. Perubahan ringan yang juga berperanan bagi peningkatan kesehatan manusia. Keadaan psikologi yang tenang, teduh dan tidak dipenuhi amarah juga menurunkan adrenalin. Saat amarah ada peningkatan adrenalin sebesar 20-30 kali lipat. Dalam hal ini,  adrenalin akan memperkecil kontraksi otot empedu, menyempitkan pembuluh darah perifer, meluaskan pebuluh darah koroner, meningkatkan tekanan darah rterial dan menambah volume darah ke jantung dan jumlah detak jantung. Adrenalin juga menambah pembentukan kolesterol dari lemak protein berkepadatan rendah. Berbagai hal tersebut ternyata dapat meningkatkan resiko penyakit pembuluh darah, jantung dan otak seperti jantung koroner, stroke dan lainnya.


6. Menurunkan kadar gula Darah

Berpuasa juga memiliki efek yang positif dalam menurunkan kadar kolestrol, gula darah dan mengendalikan tekanan darah. Sangat dianjurkan bagi penderita diabetes, kolestrol tinggi, darah tinggi dan kegemukan untuk berpuasa. Hal ini berlaku bagi mereka yang belum parah.

Dalam Kongres Internasional Kesehatan dan Ramadan di Casablanca, Maroko, pada 1994, menampilkan 50 hasil studi manfaat medis puasa Ramadan. Berdasarkan berbagai penelitian tersebut, diketahui puasa bisa meningkatkan kesehatan. "Dalam kondisi biasa, glukosa tubuh yang tersimpan di hati menjadi sumber utama energi. Selama puasa, cadangan gula akan segera habis. Setelah itu, lemaklah yang menjadi sumber energi tubuh manusia," kata Ilmuwan dari Oxford, Razeen Mahroof, dikutip SH dari laman nhs.uk, Senin 22 Juni 2015.

Mahroof menjelaskan jika glukosa tubuh sudah habis dan peran penyuplai energi digantikan oleh lemak, maka itu bagus untuk tubuh. Hal itu akan menurunkan berat badan, kolesterol dan mengurangi tekanan darah. "Proses detoksifikasi juga terjadi, karena racun yang tersimpan dalam lemak tubuh dilarutkan dan dikeluarkan dari tubuh," kata Mahroof.

Meski demikian, anda harus memperhatikan keseimbangan antara makan dan minum selama puasa. "Anda harus mengonsumsi makanan yang seimbang, dengan proporsi yang tepat antara karbohidrat, lemak, dan protein," ujar Mahroof.


7. Menghindari Kegemukan & Sarana Diet

Puasa dapat menjaga perut yang penuh disebabkan banyak makan adalah penyebab utama kepada bermacam-macam penyakit khususnya obesitas, hiperkolesterol, diabetes dan penyakit yang diakibatkan kelebihan nutrisi lainnya.

Tim peneliti Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI-RSCM dan tim ahli gizi Instalasi Gizi RSCM Jakarta pada 2013 membuktikan puasa dapat mengurangi lemak di dalam tubuh. Penelitian yang berjudul The Ramadan fasting decreased body fat but not protein mass in healthy individuals itu melibatkan sebanyak 43 orang sehat (staf medis) yang melakukan ibadah puasa Ramadan pada tahun 2013. Pemeriksaan itu meliputi pemeriksaan komposisi tubuh secara lengkap dengan menggunakan alat khusus yaitu GAIA 359 PLUS (Jawon Medical, South Korea), pemeriksaan antropometri dan analisa asupan makan harian. Pemeriksaan itu dilakukan pada hari pertama Ramadan, hari ke-28 dan 4-5 minggu setelah puasa Ramadan.

Para responden penelitian diberi kebebasan untuk mengonsumsi makanan seperti biasa saat mereka puasa dan juga tidak ada pembatasan aktivitas. Mereka tetap bekerja seperti biasa sesuai profesi masing-masing, yakni dokter, perawat dan ahli gizi. Para peserta terdiri dari perempuan sebanyak 86 persen dan 44 persen peserta memiliki berat badan lebih atau kegemukan (IMT > 23 kg/M2). Rata-rata umur peserta yaitu 34 tahun. Indeks Massa Tubuh (IMT) subjek penelitian 23,7 kg/M2. "Selama Ramadan ternyata terjadi penurunan berat badan dan perubahan komposisi tubuh, kecuali massa protein tubuh. Begitu pula pada rasio pinggang dan pinggul terjadi penurunan," kata Ketua Tim Peneliti Dr Ari Fahrial Syam. 

Penurunan berat badan lebih besar terjadi pada laki-laki daripada perempuan. Rata-rata penurunan berat badan pada laki-laki mencapai 1,4 kg, sedang penurunan pada perempuan hanya 0,8 kg. Pengurangan lemak tubuh mencapai 0,5 kg. Ternyata, puasa tidak menyebabkan penurunan protein tubuh melainkan penurunan kadar lemak tubuh. Protein sangat penting untuk kekuatan otot baik otot anggota gerak, maupun otot untuk pernapasan dan otot jantung. Puasa yang berlangsung 14 jam tidak akan menyebabkan gangguan kesehatan tubuh bahkan sebaliknya justru akan memperbaiki tubuh karena yang dibakar hanya lemak tubuh dan tidak membakar protein. "Sayangnya, berat badan para peserta akan kembali ke sedia kala atau pertama kali puasa setelah 4-5 minggu pasca puasa Ramadan," katanya.

Sayangnya, berat badan para peserta akan naik setelah bulan puasa usai. Hal itu menunjukkan bahwa komitmen untuk tetap mempertahankan berat badan selama Ramadan tidak konsisten dan tidak berlangsung lama. 


8. Melindungi fungsi Ginjal

Puasa yang otomatis akan menghentikan konsumsi air juga efektif dalam meningkatkan konsentrasi urin dalam ginjal serta meningkatkan osmosis urin hingga mencapai 1.000 sampai 12.000 ml osmosis / kg air. Dalam keadaan tertentu, kondisi ini akan memberikan perlindungan terhadap fungsi ginjal. Puasa juga dapat menurunkan volume air dalam darah sehingga memacu kinerja mekanisme local pengatur pembuluh darah dan menambah prostaglandin yang pada akhirnya memacu fungsi dan kerja sel darah merah.


9. Meningkatkan Sistem Kekebalan Tubuh

Ternyata kekabalan tubuh juga bisa meningkat saat berpuasa. Ada penelitian yang menunjukkan peningkatan limforsit hingga 10 kali lipat saat berpuasa. limforsit merupakan sejenis sel darah putih pada sistem kekebalan makhluk vertebrata. Kendati keseluruhan sel darah putih tidak berubah ternyata sel T (salah satu grup sel darah putih yang diketahui sebagai limfosit dan memainkan peran utama pada kekebalan selular) mengalani kenaikkan pesat yang akan berpengaruh bagi imunitas tubuh.

Ilmuwan di University of Southern California menguji efek puasa dalam periode dua hingga empat hari selama enam bulan pada tikus dan manusia. Dalam kedua kasus tersebut, tidak mengonsumsi makanan dalam jangka waktu lama secara signifikan menurunkan jumlah sel darah putih. Pada tikus, puasa memicu regenerasi sel darah putih baru sehingga sistem pertahanan tubuh pun kembali baru.

“Langkah ini membiarkan sel induk untuk terus maju dan mulai berkembang biak dan membangun kembali seluruh sistem. Berita baiknya adalah tubuh menyingkarkan bagian sistem yang mungkin hancur saat berpuasa,” tutur Valter Longo, Professor Ilmu Gerontologi dan Biologi di University of Southern California kepada New Vision.

Studi juga menemukan puasa menurunkan tingkat enzim PKA, efek yang dikenal bisa meningkatkan umur organisme sederhana. Tingkat hormon IGF-1 yang berhubungan dengan penuaan dan pertumbuhan tumor juga menurun. Sebagai tambahan, percobaan puasa 72 jam sebelum kemoterapi pada pasien kanker melindungi dari keracunan.


10. Memacu Kinerja Otak

Sebuah tulisan penelitian yang dilakukan Dr. Ratey, seorang psikiaters dari Harvard, mengungkapkan bahwa pengaturan dan pembatasan asupan kalori akan meningkatkan kinerja otak. Dr. Ratey melakukan penelitian terhadap mereka yang berpuasa dan memantau otak mereka dengan alat yang disebut “functional Magnetic Resonance Imaging” (fMRI). Hasil pemantauan itu menyimpulkan bahwa setiap individu obyek menunjukkan aktivitas “motor cortex” yang meningkat secara konsisten dan signifikan.

Ilmuwan di bidang neurologi yang bernama Mark Mattson, Ph.D., seorang kepala laboratorium neuroscience di NIH’s National Institute on Aging. Dalam hasil penelitiannya menunjukkan bahwa diet yang tepat seperti berpuasa, secara signifikan bisa melindungi otak dari penyakit de-generatif seperti Alzheimer atau Parkinson. Hasil penelitiannya menunjukkan, bahwa diet dengan membatasi masukan kalori 30% sampai 50% dari tingkat normal, berdampak pada menurunnya denyut jantung dan tekanan darah, dan sekaligus peremajaan sel-sel otak.


11. Meningkatkan Hormon Seksual

Dalam sebuah penelitian, dikatakan bahwa terdapat hubungan antara puasa dengan hormone dan kemampuan seksual laki-laki. Penelitian tersebut mengamati terjadinya penurunan kadar hormon kejantanan (testoteron_, perangsang kantung (FSH) dan lemotin (LH) pada awal minggu pertama puasa. Namun dalam jangka panjang setelahnya, hormon testoteron dan performa seksual justru meningkat pesat melebihi sebelumnya.

Pakar Filsafat Jawa Prof. Dr. Damardjati Supadjar mengatakan, gairah seks seseorang akan cenderung meningkat saat melaksanakan ibadah puasa di bulan ramadhan. Meski diakui puasa menyebabkan kondisi fisik seseorang nampak menurun. 

Meningkatnya gairah seks di saat puasa disebabkan sel darah di dalam tubuh tidak banyak mendapat asupan gizi sehingga darah lebih banyak mengalir ke wilayah organ genital. "Ketika darah tidak mencerna makanan, maka darah bebas tugas, karena itu akan menggalir ke daerah wilayah otonom," tetapi, harapannya hal ini bisa dikontrol dengan baik dalam rangka untuk melaksanakan ibadah puasa yang berkualitas.


12. Membuang Racun Dalam Tubuh

Tidak dapat dipungkiri bahwa gaya hidup pada zaman seperti sekarang ini cenderung lebih mengedepankan segala sesuatu yang bersifat instan, termasuk dalam hal makanan. Dan faktanya, makanan yang bersifat saji ini banyak mengandung zat kimia yang bisa menjadi racun serta berbahaya bagi tubuh.

Ternyata aktivitas puasa mampu menghilangkan racun yang sebagian besar tersimpan dalam lemak tubuh. Pada saat puasa lemak akan dibakar, dan terjadilah proses detoksifikasi atau pembuangan racun dalam tubuh.

Ahli Gizi yang juga menjadi dosen Fakultas Ekologi Institut Pertanian Bogor (IPB), Achmad Sulaeman, mengimbau masyarakat, terutama umat muslim, agar tidak takut sakit dan akan menurunkan produktivitasnya karena menjalankan puasa pada Ramadan mendatang. Pasalnya, berdasarkan penelitian yang dia lakukan serta peneliti asing, terbukti bahwa berpuasa itu merupakan proses detoksifikasi yang sangat efektif.

"Dalam tubuh kita banyak racun dan toksin mengendap serta dapat mengakibatkan berbagai penyakit. Tapi dengan berpuasa racun dan toksin ini bisa hilang,".

Menurut dia, dengan kondisi berpuasa, manusia dapat menekan jumlah radikal bebas, membersihkan lambung dan usus, memperbaiki fungsi hati, melancarkan aliran darah, meningkatkan imunitas, menjernihkan pikiran, serta dapat menstabilkan emosi. "Karena nafsu yang timbul dalam diri manusia semua bersumber pada energi yang dihasilkan oleh makanan dan racun-racun dalam tubuh,"

Untuk menghilangkan semua racun tersebut, dalam satu tahun dianjurkan berpuasa selama 30-40 hari. "Dengan puasa selama 30 hari dapat membuang racun yang menumpuk di dalam tubuh yang berasal dari sisa makanan, sisa metabolisme tubuh, polusi, obat-obatan, hingga aktivitas otak, yang mengendap dalam tubuh kita," kata Sulaeman.


13. Memiliki umur Panjang

Penelitian endokrinologi menunjukkan bahwa pola makan saat puasa yang bersifat rotatif menjadi beban dalam asimilasi makanan di dalam tubuh. Keadaan ini mengakibatkan pengeluaran hormon sistem pencernaan dan insulin dalam jumlah besar. Penurunan berbagai hormon tersebut merupakan salah satu rahasia hidup jangka panjang.

sebuah penelitian di USD Davis School of Gerontology menunjukkan bahwa puasa selama satu bulan akan membantu meremajakan dan memperbaiki sel tubuh. Artinya, tubuh akan terjaga awet muda dan panjang umur. Hal ini karena jumlah kalori yang masuk ke tubuh hanyalah setengah dari biasanya. Para peneliti juga menjelaskan, ketika tubuh terus makan, proses perbaikan terhambat dan kemungkinan penyakit lebih mudah menyerang. Sementara berpuasa akan membantu tubuh mengonsumsi glukosa cadangan (glikogen) yang juga membantu penurunan berat badan.



NB :

Walau ada hasil yang mengejutkan di atas, hendaknya puasa juga tidak berlebihan, karena di Islam juga melarang kita untuk berpuasa sepanjang tahun. dan puasa yang baik adalah puasa DAUD yaitu sehari puasa dan seharinya lagi tidak. Serta ada larangan untuk puasa di hari-hari Besar Islam.



Demikian hasil yang kita rangkum dari berbagai sumber, semoga bermanfaat.

Share this article :

Posting Komentar

 
www.newselvi.com
Copyright © 2014. New Selvi - All Rights Reserved
Self Learning Version
learning more easy and interesting